Google+ Followers

Sunday, December 16, 2012

Cara Menentukan Titik Break Even (BE)


        Terdapat tiga carapendekatan yang dapat dipakai dalam menghitung tingkat Break even Perusahaan untuk suatu periode. Tiga pendekatan itu adalah :
  1. Pendekatan secara Tabelaris, yaitu dengan cara menghitung jumlah penghasilan dan biaya pada berbagai tingkat atau volume penjualan/produksi.
  2. Pendekatan secara Grafis, yaitu dengan menggambar kurva Penghasilan, Biaya Tetap, dan Biaya Total pada berbagai penjualan/produk.
  3. Pendekatan secara Arithmatik, yaitu dengan menggunakan rumus berikut ini :

Formula Menentukan Break Even Point
  • Atas dasar unit

  • Atas dasar sales dalam rupiah


Keterangan:
  • FC : Biaya Tetap
  • P : Harga jual per unit
  • VC : Biaya Variabel per unit
        Biaya tetap adalah total biaya yang tidak akan mengalami perubahan apabila terjadi perubahan volume produksi. Biaya tetap secara total akan selalu konstan sampai tingkat kapasitas penuh. Biaya tetap merupakan biaya yang akan selalu terjadi walaupun perusahaan tidak berproduksi.

        Biaya variable adalah total biaya yang berubah-ubah tergantung dengan perubahan volume penjualan/produksi. Biaya variable akan berubah secara proposional dengan perubahan volume produksi.

Data : Rencana Penjualan Perusahaan  , 2020



Diminta untuk menganalisis Break Even Point dengan menggunakan:
  1. Pendekatan Tabularis
  2. Pendekatan Grafis
  3. Pendekatan Aritmatik

Penyelesaian

1. Pendekatan SecaraTabelaris
        Atas dasar data diatas dapat diketahui bahwa :
  • Harga jual per unit Rp 25,-
  • Biaya variable per unit produk Rp 13,- (Rp 2.600.000 dibagi 200.000 unit)
  • Beban tetap produksi mauun biaya usaha keseluruhan berjumlah Rp 1.800.000,-
Berdasarkan data di atas dapat dibuat perkiraan laba pada berbagai tingkat produksi/penjualan seperti berikut :

        Pada tingkat penjualan terendah (100.000 unit atau Rp 2.500.000,-) perusahaan akan menderita kerugian Rp 600.000,- dan pada tingkat penjualan tertingi (200.000 unit atau Rp 5.000.000,-) akan memperoleh keuntungan Rp 600.000,- .

        Volume BEP akan dicapai pada tingkat penjualan sebesar 150.000 unit atau penghasilan penjualan sebesar Rp 3.750.000,-. Pada tingkat mana penghasilan keseluruhan (TR) sama dengan biaya keseluruhan (T.C). sehingga pada tingkat tersebut laba perusahaan sama dengan nol.
Dengan demikian volume Break even dicapai pada tingkat penjualan 75% dari volume yang dianggarkan, yaitu berasal dari perhitungan :


        Angka 75% ini juga sekaligus dapat menunjukkan bahwa bilamana terjadi penurunan dalam penjualan sebanyak 100%-75% = 25% dari volume yang dianggarkan, maka perusahaan tidak lagi dapat mengharapkan adanya keuntungan. Dengan kata lain angka 25% ini menunjukkan batas maksimal turunnya penjualan yang dapat ditolelir untuk dapat mencegah terjadinya kerugian. Angka itu juga disebut dengan istilah safety margin. (Margin off Safety)


        Dengan demikian semakin rendah angka presentase break even atau semakin tinggi angka safety margin, semakin baik perusahaan itu. Oleh karenanya perusahaan cenderung untuk mengusahakan angka presentase break evennya serendah mungkin.

2. Pendekatan secara grafis
        Dengan menggunakan sumbu X sebagai penunjuk volume kegiatan dan sumbu Y mentinjukkan nilai rupiah dari penghasilan dan biaya, maka titik break even akan diketahui dari perpotongan antara kurva Penghasilan keseluruhan dengan Biaya keseluruhan (TR = TC).
Gambarnya adalah sebagai berikut :


         Grafik break even dapat dibuat dengan meletakkan garis Biaya Total di atas garis Biaya Tetap Total atau di atas garis Biaya Variabel Total, hasilnya akan sama saja, yaitu bahwa break even dicapai pada tingkat penghasilan sebesar  Rp 3.750.000,- (pada sumbu Y) atau 150.000 unit (pada sumbu X).

        Cara penggambaran di sebelah kanan lebih tepat karena menunjukkan bahwa Biaya Variabel-lah yang lebih relevan untuk ditutup terlebih dahulu sebelum penghasilan penjualan itu digunakan untuk menutup biaya tetap. Hal itu benar karena biaya tetap merupakan biaya yang sudah terlanjur (sunk cost). Sehingga keputusan untuk meneruskan atau menghentikan produksi harus didasarkan pada keadaan bahwasanya selama penghasilan dari penjualan masih dapat menutup biaya variabel keseluruhan, maka selama itu pula lebih meng¬untungkan untuk meneruskan produksi daripada menghentikannya. Apalagi bilamana masih ada sisa penghasilan yang tersedia untuk memikul sebagian dari beban tetap. Dengan demikian dengan meneruskan produksi maka kerugian perusahaan akan lebih kecil bila dibandingkan dengan kerugian yang harus dipikul sebagai akibat menghentikan produksi.

3. Pendekatan secara arithmatik
Break even dapat diketahui dengan memasukkan data anggaran sebagai berikut.
a.    Atas dasar keseluruhan :



b.    Atas dasar per unit produk :


        Rumus BE keseluruhan akan menghasilkan perhitungan BE dalam rupiah, sedang analisa per unit produk menghasilkan BE dalam jumlah fisik produk.

Bagian dari rumus BEP secara keseluruhan yang berupa :


juga disebut sebagai Variable Cost Ratio. Variable  Cost ratio sebesar 52% berarti bahwa 52% dari keseluruhan penghasilan, atau 52 sen dari setiap Rp 1,- peng¬hasilan yang diperoleh dari penjualan, akan terpakai untuk menutup biaya variabel. Sehingga sisanya yang 48% (1 - 0,52 atau 100% - 52%) disebut Profit Volume Ratio. Yaitu bagian dari penghasilan yang tersisa dan tersedia untuk menutup biaya tetap, dan seterusnya akin tersedia sebagai keuntungan perusaha¬an.

        Oleh karena itu perusahaan akan cenderung untuk mengusahakan agar Variable Cost ratio ditekan serendah mungkin, atau Profit Volume ratio dinaik¬kan setinggi mungkin.

No comments: